Postingan

Menampilkan postingan dengan label sok puitis

taik

segala yang berlebihan itu tidak baik. cinta berlebihan tidak baik. bukan salah, tapi tidak baik. nanti kecewa. sombong juga tidak baik. boleh sombong, kalo memang mampu. tapi tetep, sombong itu tida baik. nanti hancur. bingung, syok, kaget, gemetar, tercekat, ga rela, you name it lah. tapi juga kecewa. seperti tidak ada artinya. tidak ada harganya. tidak ada yang sempurna. mungkin kami terlalu militan. mungkin kami terlalu nekat. mungkin kami terlalu berani mengambil risiko. mendobrak keras dinding-dinding yang ada. mungkin kami terlalu egois. mungkin kami terlalu tidak berpikir panjang. mungkin kami terlalu kreatif. mungkin kami terlalu sombong. mungkin kami cuma terlalu cinta. ah sudahlah. bullshit semuanya. bullshit cinta-cintaan ini. taik. you'll never be the same home anymore. from a broken hearted sister, with love and hatred.

lelucon

kata-kata bisa jadi hanyalah kata-kata yang menggemborkan persaudaraan yang menjunjung etika yang mengagungkan kemanusiaan siapa yang tahu jika dibaliknya ternyata semua berdarah-darah semuanya saling bunuh

kamu adalah sesuatu yang tidak aku mengerti

Aku tidak mengerti mengapa aku menyukaimu. aku tidak mengerti mengapa aku menginginkanmu. aku tidak mengerti mengapa aku hanya ingin mendoakan yang terbaik untukmu, meskipun aku juga menginginkanmu. aku tidak mengerti dari mana aku mendapatkan keberanian kala itu. aku juga tidak mengerti kenapa kita, aku dan kamu, bisa seperti ini pada akhirnya. tapi maaf, aku tidak akan menulis sesuatu yang klise seperti "yang aku mengerti hanyalah aku menyayangimu". haha, itu sudah terlalu umum. sekalipun itu ada benarnya. itu benar-benar kalimat yang klise, dan benar juga kalau aku menyayangimu. PS: catatan ini tidak dibuat saat sedang galau. Sorry, no galau ya~

kalah

Ya, kami kalah. Kalah dari pertempuran tak  terlihat berupa ego dan gengsi. Kekalahan kami dimulai di pagi itu, ketika dia mendatangi kami. Untuk apa? Well, sesuatu yang tak kami kira akan dia lakukan, yaitu meminta maaf. Sekian lama kami berada dalam perang dingin. Demi membela ego masing-masing. "Jangan salahkan kita, karena dia yang memulai segalanya. Bertingkah seolah-olah kami sangat membutuhkannya. Dia pikir, kita tidak bisa berbuat apa-apa?", begitu pembelaan kami dulu. Tapi kenapa lantas kami jadi kalah? Bukannya dia yang duluan meminta maaf? Tentu saja, kami kalah. Bukan dalam mempertahankan ego. Jelas kami tahu kalau kami kuat dalam hal itu. Kami terlatih terlalu baik dalam mempertahankan ego. Lalu? Kami kalah dalam hal berbesar hati. Untuk mau menjadi yang pertama meminta maaf itu berat, kawan. Butuh hati yang besar untuk mampu melakukannya dengan tulus. Well, katakanlah dia melakukannya dengan tulus.

the earth without art is just eh

sebuah kalimat unik yang aku baca ketika melewati sebuah gedung yang menyenangkan untuk dipandang. sebuah gedung dengan dinding kaca besar yang memamerkan tangga putarnya yang penuh dengan coretan indah. sebuah gedung yang sombong karena "aksi pamernya", sekaligus murah hati karena sudah mengizinkan mata orang-orang yang memandangnya melihat tangga putar penuh coretan itu. sebuah gedung yang selalu membuatku menoleh ke arahnya. sebuah gedung yang aku tidak tahu namanya.

sunday bloody sunday...

waktu itu pelajaran tambahan matematika di siang hari. aku bukannya fokus mendengarkan penjelasan dari guru, tapi otakku malah penuh sesak dengan nada dan lirik Sunday Bloody Sunday dari U2. tidak tahan, akhirnya aku tanpa sadar menyanyikan baris pertama reffrain lagu itu ketika kelas sedang hening, "Sunday bloody Sunday...". berikutnya terdengar sahutan dari bangku seberang, melanjutkan laguku. seseorang yang entah kenapa, dulunya, bisa kukagumi dengan segala ketidakpeduliannya.